

2000 tahun silam, nenek moyang Polinesia meninggalkan Asia Tenggara menuju kepulauan Tahiti. Mereka membawa serta keluarga dan beberapa tanaman untuk obat-obatan demi mempertahankan hidup yaitu kelapa, pandan, singkong dan noni. Di lingkungan asri bergunung api bebas polusi yang tanahnya kaya sumber nutrisi tsb, noni tumbuh dan berkembang dengan kualitas tinggi dan terbaik dunia. Hal yang paling menguntungkan yaitu tidak terdapat persaingan dari tumbuhan lain sehingga hampir seluruh kepulauan Tahiti menghijau oleh tumbuhan noni.
Salah satu sifat tanaman Noni adalah menyerap unsur yang ada di sekelilingnya karena Noni tidak memiliki serabut penyaring. Oleh karena itu apabila sebatang pohon Noni tumbuh di daerah yang kualitas tanahnya jelek, buah yang dihasilkan akan buruk pula. Bahkan, bisa menjadi racun jika tanahnya banyak mengandung racun. Contoh, jika sebuah pohon Noni (masyarakat Indonesia mengenal dengan sebutan mengkudu) tumbuh di tepi selokan, seluruh unsur yang terdapat di selokan akan diserap dan buah Noni dengan karakter selokan ini bisa-bisa mengandung racun.
Menurut H.B.Guppy, di dunia terdapat 80 jenis Noni dan hanya 20 jenis yang aman dikonsumsi. Sementara bentuk noni satu sama lainnya sangat mirip. Di antara 20 yang aman itu menurut penelitian Dr. Scott Gersonmorinda, noni berjenis morinda citrifolia yang tumbuh di kepulauan Tahiti-lah yang menempati urutan pertama terbaik dunia. Itulah sebabnya noni dari Tahiti ini diberi julukan Queen of The Morinda (Ratunya Morinda). Hal ini beralasan karena sang Queen ini lahir dan tumbuh di daerah pegunungan yang memiliki unsur hara tanah yang pristine (segar dan bersih) dan dikelilingi samudra luas.


0 komentar